Pojok kamar


ngisengin one particular team-mate
July 28, 2008, 11:31 pm
Filed under: Uncategorized

who? saya dan anak-anak the center.
what? main voli.
when? senin sore.
where? sabuga.
why? hayang wae..
how? bolanya dipukul-pukul.

lagi asik main voli, ada yang datang, posisi salah seorang pemain digantikan. kami main lagi, tapi permainan jadi tidak asik. orang itu mulai berteriak-teriak memberi instruksi. "tengah! tengah!" atau "my ball! my ball!" atau "dribble sini!" tanpa sadar dimana posisinya. dia bermain seperti seorang diri, mengejar bola kesana-kemari walaupun ada pemain lain yang sudah sangat siap mengantisipasi di posisi yang tepat.

satu bola datang, di area jangkauan saya. dia memanggil, "oke, dapat!" dia maju dan saya membiarkan bola jatuh di dekat saya. dia kesal sendiri, saya senyum-senyum sambil memungut bola. teman-teman yang lain menyemangati.

saya bermain cukup baik, jujur saja. tapi menerima orang seperti dia di tim saya membuat saya ingin mengalah. saya jadi bersemangat membela tim lawan.



si saya, si nenek, dan si bapak
July 28, 2008, 11:22 pm
Filed under: Uncategorized

kemaren dulu mau ke bandung. ada bis damri lagi ngetem di pangdam. naik saya lalu duduk. naik seorang nenek, terhuyung-huyung, dari keriputnya, umur 80an. saya beringsut minggir, si nenek duduk di samping saya. abis itu naik bapak2, dari kumisnya, umur 40-an, duduk di sebelah nenek. damri kami (dan semua damri yang lain) berkomposisi bangku 2-3 yang mengharuskan orang yang naik duluan mendapat jatah window, dan yang belakangan aisle. si saya, si nenek, si bapak. jadi si nenek diapit 2 pria misterius. bis damri kemudian berguling pelan sampai jadi cepat.

damri memasuki tol yang mulus, si nenek pun terkantuk-kantuk, terlempar-lempar mengikuti irama kontur jalan tol yang ternyata tak terlalu mulus juga. sesebentar saya terusik kepala si nenek yang suka jatuh ke pundak saya yang sedang seru baca buku, tapi sesebentar kemudian si nenek sadar lagi dan berusaha duduk tegak, sebentar lalu jatuh lagi, berkali-kali, sampai bosan. mungkin dia kelelahan. saya lihat si bapak di sebelah nenek memperhatikan saya, merasa kasihan, entah sama saya atau sama si nenek. saya cuek saja, tapi tidak cukup untuk terus baca buku. cuma bisa liat keluar jendela sambil dengar musik. keluar dari tol, si nenek bersiap-siap turun, si bapak membicarakan sesuatu yang tidak dapat saya simak karena sedang pakai ear-plug, lalu dia memberikan uang 50ribu kepada nenek, nenek menolak, lalu, entahlah saya tidak lagi memperhatikan.
nenek turun pelan-pelan menjaga keseimbangan sambil dibantu pak kondektur.
saya jadi terpekur, loading..
baru saya berpikir  betapa kurangnya empati saya terhadap orang lain, dan betapa banyaknya orang-orang baik yang masih ada di sekitar kita.
aah, andai saja semua orang saling peduli satu sama lain.
aah, andai saja tidak ada kecurigaan di dunia ini.
indah sekali.